opini

Ternyata 'Bajingan' Bukan Kata Kotor: Menelusuri Arti Aslinya

Ternyata 'Bajingan' Bukan Kata Kotor: Menelusuri Arti Aslinya

Hari ini saya membuka sosial media, dan seperti biasa, jempol sibuk menggulir tanpa arah. Di antara tumpukan konten yang lewat, saya berhenti di satu potongan video—pidato Bapak Presiden Prabowo yang menyebut kata "bajingan".

Menariknya, dalam pidato di Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama itu, beliau bukan sedang memaki siapa-siapa. Beliau justru sedang menceritakan label yang orang lekatkan ke dirinya sendiri: "Ada yang mengatakan saya bajingan yang tolol, saya enggak sebut namanya, kalian sudah tahu lho." Kalimat itu diucapkan dengan santai, hampir seperti bercanda, di tengah topik soal komitmen membersihkan pemerintahan dari korupsi.

Tapi bukan soal politiknya yang membuat saya berhenti. Yang menggelitik saya justru satu katanya: bajingan. Kata yang di telinga kita hari ini terdengar kasar, kotor, dan pantas disensor. Padahal—dan ini yang menarik—asal-usulnya sama sekali tidak seperti itu.

Jadi, apa sih arti kata "bajingan"?

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "bajingan" diartikan sebagai penjahat, pencopet, atau kata makian untuk orang yang kurang ajar. Sudah, tamat. Konotasinya jelas negatif.

Tapi coba tarik mundur ke belakang, jauh sebelum kata ini masuk kamus dengan makna semenyeramkan itu.

Dalam bahasa Jawa, bajingan dulunya adalah sebuah profesi. Ia adalah sebutan untuk sopir gerobak sapi—kendaraan tradisional yang jadi tulang punggung transportasi masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah, konon sejak sebelum era kekuasaan Sultan Agung di abad ke-17. Di zaman ketika mayoritas orang hidup sebagai petani, gerobak sapi inilah yang mengangkut hasil panen dari desa ke kota. Dan orang yang mengendalikannya disebut bajingan.

Ada satu versi cerita yang saya suka. Menurut penuturan sebuah paguyuban gerobak sapi di Bantul, kata "bajingan" diambil dari nama tokoh bernama Mbah Jingan—sosok yang dikenal berani dan serba bisa: petani, pemanjat pohon kelapa, sekaligus pengendali gerobak sapi. Orang-orang dulu bertanya "Mbah Jingane endi?" (Mbah Jingannya di mana?). Lama-lama terdengar samar jadi "Ba Jingane endi?" Dan dari situlah, kata itu berkembang sampai sekarang.

Lalu kenapa maknanya bisa berubah jadi sekasar itu?

Di sinilah cerita jadi manusiawi sekali.

Bayangkan zaman dulu, transportasi langka. Kalau mau ke kota, orang harus menunggu gerobak sapi lewat di pinggir jalan, lalu numpang alias "nunut". Masalahnya, sapi jalannya lambat—kira-kira empat kilometer per jam saja—dan jadwal si bajingan sama sekali tidak pasti. Kadang datang pagi, kadang siang, kadang baru muncul tengah malam.

Coba bayangkan menunggu di pinggir jalan berjam-jam untuk tumpangan yang tak kunjung datang. Wajar kalau mulut mulai menggerutu: "Dasar bajingan, di enteni ora teko-teko!" (Dasar bajingan, ditunggu tidak datang-datang!).

Dan begitulah. Kata yang tadinya cuma nama sebuah pekerjaan, pelan-pelan lengket dengan rasa jengkel, kesal, dan umpatan. Sampai akhirnya makna aslinya luntur, tergantikan sepenuhnya oleh nada emosi orang yang mengucapkannya. Yang tersisa di kamus hari ini tinggal versi kasarnya.

Pantaskah kata itu diucapkan?

Ini pertanyaan yang tidak punya jawaban tunggal. Tapi mari kita jujur: konteks menentukan segalanya.

Kata yang sama bisa terdengar sebagai penghinaan tajam, bisa juga jadi sekadar candaan akrab antar teman lama di warung kopi. Ada daerah di Jawa yang sampai hari ini masih memakai "bajingan" dengan santai untuk menyebut sopir gerobak sapi, tanpa satu pun niat menghina.

Yang membuat sebuah kata jadi kasar sering kali bukan kata itu sendiri, melainkan niat dan rasa yang kita titipkan padanya. Sama seperti para penunggu tumpangan tadi—yang menajamkan "bajingan" bukan lewat makna, tapi lewat kejengkelan.

Siapa yang sering mengucapkannya?

Kalau ditanya siapa, jawabannya bisa siapa saja. Dari netizen yang emosi di kolom komentar, komedian yang memakainya untuk melucu, sampai—seperti yang kita lihat hari ini—seorang kepala negara yang mengutipnya dalam pidato resmi.

Justru di situ letak keunikan bahasa. Sebuah kata bisa melompat dari mulut sopir gerobak sapi di abad ke-17, ke gerutuan penumpang yang kepanasan, sampai ke podium istana negara di abad ke-21. Perjalanannya panjang, dan di setiap perhentian, ia menumpuk makna baru.

Tapi untuk yang satu ini, izinkan saya jujur dengan pendapat pribadi: menurut saya, tidaklah pantas seorang pemimpin menggunakan kata "bajingan" saat berpidato. Bahasa Indonesia begitu kaya—ada banyak sekali pilihan kata yang lebih halus, lebih elegan, dan tetap bisa menyampaikan maksud yang sama tanpa kehilangan ketegasan. Alih-alih menyebut seseorang "bajingan", pemimpin bisa memilih kata seperti "oknum yang tidak bertanggung jawab", "pihak yang bermain curang", atau sekadar "mereka yang mencoba menghalangi". Bahkan sindiran pun bisa disampaikan dengan anggun—misalnya, "Ada yang meragukan niat baik kami, tidak apa-apa, waktu yang akan membuktikan," terdengar jauh lebih berwibawa ketimbang melempar kata kasar. Seorang pemimpin tidak kehilangan kekuatan pesannya hanya karena memilih kata yang lebih santun; justru sebaliknya, kesantunan itulah yang sering menambah wibawa.

Sebab kata yang keluar dari podium resmi tidak berhenti di ruangan itu saja. Ia didengar jutaan orang, dikutip berulang-ulang, dan pelan-pelan ikut membentuk cara kita berbahasa sehari-hari. Kalau yang di atas terbiasa berkata halus, ada harapan yang di bawah pun ikut menjaga lisannya. Bagi saya, di situlah letak keteladanan seorang pemimpin—bukan pada seberapa lugas ia berbicara, tapi pada seberapa terjaga tutur katanya.

Penutup

Ada satu makna "bajingan" versi Bantul yang membuat saya tersenyum dan menutup renungan ini. Seorang sopir gerobak sapi di sana pernah menuturkan filosofinya:

"Bajingan itu bagusing jiwo angen-angen ning pangeran."

Artinya kurang lebih: bagusnya jiwa yang selalu mengingat Tuhan. Meski hanya sopir gerobak sapi yang jalannya lambat dan sering ditunggu-tunggu dengan kesal, kalau wataknya baik dan hatinya selalu ingat pada Sang Pencipta—selalu ingat untuk sembahyang—maka ia justru disayang Tuhan.

Lucu, ya. Kata yang hari ini kita anggap paling kotor, di kampung asalnya justru dimaknai sebagai jiwa yang dekat dengan Tuhan.

Mungkin di situ pelajarannya. Kata bisa bergeser, makna bisa berubah, dan penilaian orang bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Yang tidak pernah berubah cuma satu: bagaimana kita menjaga hati dan lisan kita sendiri.

Sekian dulu renungan dari layar sosial media hari ini.